
Film · 7 November 2026
Ghost in the Cell: Joko Anwar Bikin Penjara Jadi Panggung Gore, Komedi, dan Kritik
Hantu yang membunuh napi lalu menata jasadnya seperti instalasi seni. Joko Anwar paling liar, paling lucu, dan mungkin paling bagus.
VerdictBerdarah, kocak, marah, dan ternyata hangat. Horor lokal terbaik tahun ini.
Joko Anwar punya reputasi sebagai sutradara horor yang muram. Pengabdi Setan bikin satu generasi takut mendengar lonceng, Perempuan Tanah Jahanam bikin kita curiga sama kampung halaman sendiri. Jadi waktu kabar soal Ghost in the Cell mulai beredar, dengan janji horor yang dicampur komedi dan bahkan nomor dansa, wajar kalau ada yang skeptis. Apakah ini Joko yang sedang iseng, atau Joko yang sedang kehilangan arah?
Ternyata, Joko yang sedang paling percaya diri.
Premisnya gampang dijelaskan dan susah dilupakan. Di sebuah lembaga pemasyarakatan yang suram, ada hantu yang mulai membunuh para narapidana, lalu menata jasad mereka seperti instalasi seni yang mengerikan. Para napi di satu blok, yang tadinya sibuk saling menindas, terpaksa bersatu untuk bertahan hidup. Pemerannya deretan nama yang solid: Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Dimas Danang, Endy Arfian, Lukman Sardi, dan Aming dalam peran psikopat yang dingin dan aneh.
Film ini tayang di bioskop Indonesia sejak 16 April 2026 dan mengumpulkan lebih dari 3,3 juta penonton, menjadikannya salah satu film horor terlaris tahun ini setelah Danur: The Last Chapter. Sebelumnya, Ghost in the Cell sudah tayang perdana di Berlinale, lalu keliling ke festival seperti Far East Film Festival di Italia dan Fantastic Fest di Amerika. Pada Oktober, film ini juga rilis di bioskop Amerika lewat Well Go USA dan bisa ditonton di layanan streaming. Untuk film horor Indonesia, jangkauan semacam ini masih jarang.
Di balik semua darah, tubuh yang dirusak, dan efek praktis yang bikin perut mual, intinya justru cerita soal persahabatan antar laki-laki yang tidak punya apa-apa lagi selain satu sama lain. Horor yang diam-diam hangat.
Peringatan buat yang punya trypophobia: ada elemen visual di film ini yang akan sangat mengganggu kamu.
Yang paling menarik adalah keberanian Joko menyentil hal-hal nyata. Penjara di sini digambarkan sebagai dunia tertutup tempat kekerasan dilakukan atas nama keadilan, oleh orang-orang yang lebih ingin menghukum daripada memperbaiki. Ada sosok aktivis pembela rakyat yang di masa tuanya justru jadi koruptor. Ada jurang kelas yang membuat penjara terasa seperti miniatur negara: yang miskin makin terinjak, yang kaya tetap nyaman bahkan di balik jeruji. Hantunya sendiri bisa dibaca sebagai metafora, manifestasi dari kegelapan yang dibawa para napi itu sendiri.
Tentu ada risikonya. Dengan durasi sekitar 106 menit dan begitu banyak ide yang dijejalkan, pergantian nada dari horor ke komedi tidak mungkin selalu mulus. Tapi kekacauan itu justru bagian dari daya tariknya. Film ini terasa seperti dibuat oleh orang yang sudah tidak peduli lagi pada aturan genre, dan itu menyegarkan di tengah gelombang horor lokal yang sering terasa seperti dibuat dari cetakan yang sama.
Kalau kamu sudah bosan dengan film horor yang isinya cuma rumah tua, hantu perempuan berambut panjang, dan jumpscare setiap sepuluh menit, Ghost in the Cell adalah obatnya. Ini film yang membuatmu teriak, tertawa, jijik, marah, dan entah bagaimana sedikit terharu, kadang dalam satu adegan.
Joko Anwar sudah lama disebut raja horor Indonesia. Dengan film ini, ia membuktikan bahwa raja juga boleh joget.
Baca juga
Dapatkan ringkasan lewat email