
Musik · 7 November 2026
Chat Pile, Who Loves the Sun, dan Lagu-Lagu untuk Kiamat yang Pelan
Band noise rock asal Oklahoma ini makin catchy dan makin suram sekaligus. Kok bisa? Catatan soal Who Loves the Sun.
VerdictAlbum paling catchy mereka, dan entah kenapa juga yang paling bikin sesak.
Kalau Chat Pile harus dirangkum dalam satu kalimat: musik buat orang yang sudah capek tapi masih marah. Tiga album penuh kemudian, rangkuman itu malah terdengar terlalu sopan.
Who Loves the Sun keluar 4 September 2026 lewat The Flenser. Ini album penuh ketiga band asal Oklahoma City tersebut, dan yang pertama setelah kolaborasi mereka dengan gitaris folk Hayden Pedigo, In the Earth Again, tahun lalu. Kalau kamu belum kenal: Chat Pile adalah empat orang yang memakai nama samaran, memainkan campuran noise rock, sludge, sedikit nu metal, dan banyak sekali rasa muak terhadap keadaan. Vokalisnya, Raygun Busch, lebih sering terdengar seperti orang yang sedang mengoceh di parkiran supermarket jam dua pagi ketimbang penyanyi.
Hal pertama yang mengejutkan dari album ini adalah betapa mudahnya beberapa lagunya nempel di kepala. Ada hook. Ada chorus yang bisa kamu teriakkan bareng. Tapi jangan salah sangka, ini bukan Chat Pile yang melunak. Lagu yang gampang dinyanyikan justru membuat isinya makin susah dihindari: kamu sudah ikut bersenandung sebelum sadar apa yang sedang kamu nyanyikan.
Contoh paling jelas adalah "PEN I S MALL", single yang sudah ramai sejak sebelum album keluar. Riffnya menghentak, dan vokal Busch di sana mungkin yang paling liar dan paling merobek tenggorokan dari semua katalog mereka. Di sisi lain ada "Shrine", yang bergerak seperti waltz orang mabuk, dan "Same Rules" dengan denyut trip-hop yang ganjil. Variasi semacam ini yang membuat Who Loves the Sun terasa lebih luas dari God's Country maupun Cool World. Mereka tidak cuma menambah berat, mereka menambah warna.
Secara tema, album ini seperti potret dunia yang sedang tenggelam pelan-pelan dan semua orang di dalamnya terlalu lelah untuk berenang. Ada kegagalan institusi, ada perasaan terasing di tengah keramaian, ada bayangan masa depan yang sudah rusak sebelum datang. Yang menarik, Chat Pile tidak berkhotbah. Busch tidak pernah terdengar seperti aktivis yang sedang orasi. Ia lebih seperti saksi mata yang menceritakan apa yang ia lihat dengan bahasa yang berantakan, lucu, dan kadang sangat menakutkan.
Buat skena kita, saya rasa Chat Pile adalah referensi yang menarik untuk band-band muda yang sudah bosan dengan formula metalcore atau hardcore yang itu-itu saja. Mereka membuktikan kamu bisa berat tanpa harus breakdown setiap 30 detik, dan bisa catchy tanpa harus terdengar seperti lagu iklan.
Kritik kecil: di beberapa titik energi album ini sedikit turun. Bagian yang lebih tenang kadang terasa seperti jeda yang terlalu panjang. Tapi mungkin itu juga bagian dari desainnya. Kiamat di album ini memang tidak datang dengan ledakan. Ia datang pelan-pelan, lalu tiba-tiba.
Who Loves the Sun? Jujur, bukan saya. Tapi saya suka album ini.
Baca juga
Dapatkan ringkasan lewat email