Dari Laptop ke Sabuk Perkakas: Kenapa Gen Z Mulai Lirik Kerja Tukang

Kultur · 7 November 2026

Dari Laptop ke Sabuk Perkakas: Kenapa Gen Z Mulai Lirik Kerja Tukang

AI bikin kerja kantoran terasa rapuh, dan anak muda mulai melirik pekerjaan yang butuh tangan. Tren, angka, dan apa artinya buat kita.

Bayangkan seorang lulusan desain komunikasi visual yang tiba-tiba mendaftar kursus instalasi listrik. Bukan buat iseng. Separuh kerja lepas yang dulu jadi sumber uangnya sekarang bisa dikerjakan klien sendiri pakai AI dalam lima menit. Tapi AI belum bisa naik tangga dan membetulkan MCB. Kedengarannya seperti lelucon tongkrongan, dan memang agak getir.

Masalahnya, skenario itu makin sering terjadi. Di luar negeri, fenomena ini sudah punya nama-nama keren, salah satunya "toolbelt generation", generasi sabuk perkakas. Sebuah survei terhadap 1.250 orang Gen Z di Amerika menemukan sekitar enam dari sepuluh responden berencana mengejar pekerjaan kerah biru di 2026, dan yang mengejutkan, sekitar separuh dari mereka yang sudah bergelar sarjana pun berpikir sama. Alasan utamanya keamanan kerja. Hampir setengah responden percaya pekerjaan tangan lebih aman jangka panjang dibanding posisi korporat, terutama karena ancaman otomatisasi.

Laporan lain dari platform jasa Thumbtack menyebut sekitar 30 persen Gen Z merasa AI justru membuat mereka lebih tertarik pada pekerjaan terampil seperti tukang listrik atau ledeng. Empat dari lima responden percaya AI akan menghapus banyak pekerjaan level pemula. Dan ini bukan cuma soal takut. Ada ironi yang lucu di sini: ledakan AI butuh pusat data raksasa, dan pusat data butuh tukang listrik, teknisi pendingin, dan pekerja konstruksi dalam jumlah besar. Seorang pembawa acara TV di Amerika bahkan mengklaim ada perusahaan AI yang berani membayar teknisi listrik muda sampai ratusan ribu dolar per tahun. Angka itu mungkin kasus ekstrem, tapi arahnya jelas.

Sementara itu, di sisi kantoran, tuntutannya makin aneh. Data dari Fortune menyebut porsi lowongan kerja teknologi yang secara eksplisit meminta kemampuan AI sudah mencapai sekitar 75 persen pada Juni lalu. Jadi kamu dihadapkan pada dua pilihan: belajar menunggangi mesin yang mungkin menggantikanmu, atau pindah ke pekerjaan yang mesin belum bisa sentuh.

Lalu bagaimana dengan kita di sini? Konteksnya tentu beda. Di Indonesia, "kerja tukang" belum punya citra yang sama dengan di Amerika, di mana tukang listrik berlisensi bisa hidup sangat nyaman. Di sini, gaji tukang masih sering ditawar, dan stigma bahwa kuliah adalah satu-satunya jalan ke hidup layak masih kuat, terutama dari orang tua. Tapi gejalanya mulai terlihat. Media lokal mulai rutin menulis soal Gen Z yang beralih ke pekerjaan teknis. Kursus las, servis AC, dan instalasi panel surya makin sering muncul di FYP. Dan banyak anak muda yang dulu kerja lepas di bidang kreatif digital mulai merasakan penurunan order sejak alat-alat generatif makin canggih.

Saya rasa ada yang lebih dalam dari sekadar hitung-hitungan gaji. Generasi yang tumbuh dengan layar sejak kecil sekarang mulai mencari sesuatu yang terasa nyata. Pekerjaan yang hasilnya bisa disentuh. Kabel yang tersambung, pipa yang tidak bocor, meja yang berdiri tegak. Ada laporan juga yang menyebut banyak Gen Z sengaja mencari aktivitas offline, dan sebagian bilang membuat sesuatu dengan tangan membantu kesehatan mental mereka. Dalam bahasa skena: ini semacam DIY versi dunia kerja.

Tentu ini bukan solusi ajaib. Pekerjaan fisik punya risiko sendiri, mulai dari cedera sampai upah yang belum tentu adil, terutama kalau tidak ada serikat atau standar yang melindungi. Dan AI juga pelan-pelan masuk ke dunia pertukangan lewat alat diagnosa dan robot. Yang berubah mungkin bukan soal mana yang aman selamanya, tapi soal siapa yang mau terus belajar.

Kembali ke lulusan DKV tadi. Jalan tengah yang paling masuk akal mungkin kerja di dua jalur: siang pasang instalasi, malam tetap menggambar poster gigs, dan untuk yang terakhir itu tetap pakai tangan sendiri, karena itu bagian yang masih bikin senang. Biarkan mesin mengerjakan yang membosankan. Simpan tanganmu untuk yang kamu cintai, dan untuk yang bayar sewa.

BagikanWhatsAppX

Baca juga

Dapatkan ringkasan lewat email

Kabar dari ke666elapan

Info merch, restock, dan jadwal Gigs. Paling banyak dua email sebulan.

Bisa berhenti kapan saja. Emailmu hanya dipakai untuk kabar dari Blackandje.

← Blackandzine