
Kultur · 7 November 2026
'Ain, Flexing, dan Ketakutan Lama Soal Mata yang Iri
Film Ain membawa kepercayaan soal pandangan iri ke era live TikTok. Kenapa ketakutan setua ini masih terasa relevan buat generasi yang hidup di layar?
Setiap kali ada yang unggah foto liburan atau barang baru, hampir selalu ada satu komentar di bawahnya, biasanya dari tante atau sepupu: "jangan lupa baca doa ya." Kedengarannya seperti basa-basi. Tahun ini, kalimat itu tiba-tiba punya film horor sendiri.
Film itu berjudul Ain, garapan sutradara Archie Hekagery di bawah MVP Pictures, tayang di bioskop mulai 7 Mei 2026. Ceritanya tentang Joy Putri, seorang beauty influencer yang diperankan Fergie Brittany, yang terobsesi dengan popularitas sampai menargetkan siaran langsungnya di TikTok ditonton sepuluh ribu orang. Ia rajin pamer, rajin mencari validasi. Sahabat lamanya, Dini, yang diperankan Putri Ayudya, mencoba memperingatkan soal bahaya 'ain. Joy tidak peduli. Lalu tubuhnya mulai berubah dengan cara yang mengerikan.
Buat yang belum familiar, 'ain dalam tradisi Islam merujuk pada gangguan, entah fisik atau psikis, yang dipercaya muncul dari pandangan mata orang lain yang disertai rasa iri, dengki, atau kekaguman berlebihan. Konsep ini sebenarnya bukan cuma milik satu budaya. Di Turki ada nazar, yang jimat mata birunya sering kamu lihat jadi gantungan kunci. Di Amerika Latin ada mal de ojo. Di Eropa Selatan dan Timur Tengah ada versinya masing-masing. Manusia di banyak tempat sudah lama percaya bahwa tatapan bisa melukai.
Yang membuat film ini terasa pas momennya adalah konteksnya. Dulu, orang yang bisa iri pada hidupmu terbatas pada tetangga, teman sekolah, atau rekan kerja. Sekarang, kalau kamu punya akun publik, potensinya ribuan atau jutaan pasang mata. Setiap foto, setiap video unboxing, setiap story di kafe, adalah undangan untuk dilihat. Dalam logika kepercayaan 'ain, media sosial adalah mesin pengganda risiko. Dalam logika psikologi, media sosial adalah mesin pengganda perbandingan sosial. Hasilnya, dalam dua kerangka itu, mirip-mirip saja: orang jadi cemas, tidak pernah merasa cukup, dan hidup untuk dilihat.
Saya tidak dalam posisi untuk bilang 'ain itu nyata atau tidak. Itu wilayah keyakinan, dan setiap orang punya jawabannya sendiri. Tapi menarik melihat bagaimana kepercayaan yang sangat tua bisa dipakai untuk membicarakan masalah yang sangat baru. Film horor memang selalu jadi cermin kecemasan zamannya. Tahun 80-an kita punya ketakutan soal santet dan dukun. Sekarang, ketakutannya adalah jumlah viewers dan komentar orang asing.
Apalagi horor masih jadi raja di bioskop kita. Data yang dikutip Antara menyebut film horor menguasai lebih dari 60 persen penonton bioskop Indonesia dalam periode 2023 sampai 2025, dengan total sekitar 128 juta penonton, dan sebagian besar di antaranya menonton horor lokal. Jadi wajar kalau produser terus mencari tema mistis baru yang belum digarap. Setelah pocong, kuntilanak, santet, pesugihan, dan KKN, giliran 'ain yang dapat sorotan.
Terlepas dari bagus tidaknya filmnya, pertanyaan yang ia lempar cukup menarik. Kenapa kita butuh ditonton orang lain? Dan kenapa ditonton orang lain bisa terasa begitu menakutkan?
Mungkin pertanyaan yang lebih jujur buat kita yang hidup di layar: apa yang sebenarnya kita takutkan, mata orang lain atau mata kita sendiri yang tidak pernah berhenti membandingkan?
Belum ada jawaban pasti. Tapi lain kali ada tante yang komentar "jangan lupa baca doa", mungkin tidak perlu buru-buru memutar mata.
Baca juga
Dapatkan ringkasan lewat email