
Kultur · 7 November 2026
2026, Tahun Ketika Gen Z Turun ke Jalan (dan Salah Satunya Menang Pemilu)
Dari Belgrade sampai Berlin, anak muda turun ke jalan dengan tuntutan berbeda. Di Serbia, gerakan mahasiswa bahkan menang pemilu.
Kalau kamu buka media sosial di akhir Oktober, kemungkinan besar kamu lihat dua jenis video yang beredar hampir bersamaan. Satu: lautan orang di Belgrade merayakan sesuatu yang sepertinya mustahil dua tahun lalu. Dua: barisan anak muda di Berlin dan kota-kota lain di Jerman memegang poster, sebagian dengan kostum Halloween. Dua peristiwa, dua negara, satu generasi.
Mulai dari Serbia, karena ceritanya paling dramatis. Semuanya bermula dari tragedi November 2024, ketika kanopi stasiun kereta di Novi Sad runtuh dan menewaskan 16 orang. Mahasiswa turun ke jalan menuntut pertanggungjawaban, dan protes itu ternyata tidak padam. Selama hampir dua tahun, gerakan ini terus hidup, lalu berubah bentuk menjadi peserta pemilu dengan nama Daftar Mahasiswa. Pada pemilu parlemen yang dipercepat 25 Oktober 2026, daftar ini meraih sekitar 52 sampai 53 persen suara dan 140 dari 250 kursi, cukup untuk mayoritas mutlak tanpa koalisi. Aleksandar Vučić, yang partainya mendominasi politik Serbia sejak 2012, mengakui kekalahan di malam yang sama.
Yang membuat cerita ini menarik bukan hanya hasilnya, tapi isi daftarnya. Banyak media menggambarkan kandidat mereka sebagai campuran dosen, seniman, dan warga biasa yang minim pengalaman politik. Tentu ini juga sumber pertanyaan besar. Para pengamat sudah mengingatkan bahwa menang pemilu dan menjalankan negara adalah dua pekerjaan yang sangat berbeda. Gerakan protes biasanya kuat dalam menolak sesuatu, tapi memerintah butuh kesepakatan, kompromi, dan kebijakan yang bisa jalan. Ujian sebenarnya baru dimulai sekarang.
Lalu Jerman. Pada 31 Oktober, inisiatif anak muda bernama "Gen Z regelt", kurang lebih berarti Gen Z yang pegang kendali, menggelar aksi serentak di lebih dari 30 kota. Kantor berita dpa memperkirakan sekitar 120 ribu orang ikut turun. Tuntutannya cukup konkret: biaya hidup yang terus naik, pemotongan anggaran pendidikan dan layanan sosial, serta penolakan terhadap wacana wajib militer. Penyelenggara secara terbuka menyerukan aksi damai dan menolak kekerasan, tapi di beberapa kota tetap terjadi bentrokan dan penjarahan oleh sebagian peserta. Menteri pendidikan Jerman mengecam kerusuhannya, tapi juga bilang isu yang diangkat anak-anak muda itu perlu ditanggapi serius. Menariknya, organisasi pelajar resmi di sana memilih jaga jarak dan merencanakan hari aksi sendiri pada 20 November.
Jerman sendiri bukan yang pertama tahun ini. Prancis dan Italia juga diwarnai demonstrasi soal biaya hidup dan anggaran militer, dan aksi di Jerman banyak dibaca sebagai bagian dari gelombang yang sama di Eropa.
Kenapa ini relevan buat kita di sini? Bukan karena saya mau bilang semua protes itu benar atau semua tuntutannya masuk akal. Itu kamu yang menilai, dan setiap negara punya konteksnya sendiri. Yang menarik buat saya adalah polanya. Generasi yang sering dicap apatis, terlalu sibuk dengan ponsel, dan cuma peduli konten, ternyata bisa mengorganisir diri lintas kota dengan cepat, sebagian besar lewat media sosial. Dan di Serbia, energi itu tidak berhenti di jalan, tapi masuk ke kotak suara.
Ada juga sisi gelapnya. Gerakan tanpa pemimpin yang jelas gampang disusupi, gampang dipelintir, dan gampang kehilangan arah setelah euforia lewat. Video kerusuhan selalu lebih cepat viral daripada isi tuntutan, dan itu bisa menenggelamkan pesan yang sebenarnya.
Skena musik keras punya sejarah panjang dengan protes. Punk dan hardcore lahir dari rasa muak terhadap keadaan, dan banyak lagu yang kita teriakkan di gigs bicara soal hal yang sama dengan poster-poster di Berlin: hidup yang makin mahal, masa depan yang tidak jelas, dan perasaan tidak didengar. Bedanya, kali ini liriknya ditulis di spanduk dan dibawa ke jalan.
Satu hal yang bisa dipelajari dari semua ini tanpa harus memihak siapa pun: suara anak muda itu ada, dan ternyata cukup keras. Pertanyaannya tinggal mau dipakai untuk apa.
Baca juga
Dapatkan ringkasan lewat email