Kecepatan Adalah Ibadah: Catatan Grind dan Powerviolence 2026

Kabar Skena · 7 November 2026

Kecepatan Adalah Ibadah: Catatan Grind dan Powerviolence 2026

Nails balik dengan dua lagu, Exhumed ngebut di jalan tol, dan Snarler muntahkan 15 lagu dalam sekejap. Rangkuman grind tahun ini.

Grindcore dan powerviolence punya masalah klasik: mereka genre yang paling susah ditulis. Bagaimana caranya menjelaskan lagu berdurasi 48 detik dalam 500 kata? Tapi tahun ini ada cukup banyak rilisan yang bikin saya ingin mencoba. Bukan ulasan lengkap, anggap saja ini catatan pinggir dari orang yang masih percaya bahwa lagu terbaik adalah lagu yang selesai sebelum kamu sadar sudah dimulai.

Mulai dari yang paling ramai dibicarakan. Nails, unit asal California yang dipimpin Todd Jones, merilis single dua lagu, "Fear Based Life" dan "Dollar Bin Generation", pada 2 September lewat Closed Casket Activities. Buat yang familiar dengan Nails, kamu tahu apa yang akan kamu dapat: gitar yang bunyinya seperti mesin gergaji kehilangan rem, drum yang tidak memberi ruang bernapas, dan vokal yang marah pada segala hal. Dua lagu ini tidak menawarkan revolusi sound, dan memang tidak perlu. Yang menarik justru judulnya. "Fear Based Life", hidup yang dibangun di atas rasa takut, dan "Dollar Bin Generation", generasi obralan. Dua frasa itu terasa sangat 2026. Generasi yang dibesarkan dengan kecemasan, kerja serabutan, dan perasaan dihargai murah. Nails selalu bagus dalam merangkum kemarahan jadi tiga sampai lima kata yang bisa kamu tulis di punggung jaket.

Lalu ada Exhumed, veteran goregrind asal California juga, dengan Red Asphalt yang rilis 20 Februari. Kalau Nails adalah amarah murni, Exhumed adalah humor gelap yang disajikan dengan kecepatan tinggi. Mereka sudah lama bermain dengan estetika film gore dan rumah sakit, dan kali ini temanya bergeser ke jalan raya: kecelakaan, aspal merah, dan semua hal yang biasanya membuat kamu melambat di jalan tol untuk menengok. Riff thrash-nya tetap tajam, dan ada semacam kegembiraan kekanak-kanakan di album ini seperti anak yang baru menemukan film gore pertamanya. Grind tidak harus selalu muram.

Ketiga, buat kamu yang suka mencari band yang belum terlalu besar: Snarler dari California merilis Blast Rash lewat No Time Records di awal Oktober. Lima belas lagu powerviolence, kebanyakan sudah selesai sebelum kamu sempat membaca judulnya. Ini tipe rilisan yang paling cocok didengar di motor sambil kena macet, karena entah bagaimana stresnya jadi seperti punya soundtrack.

Kenapa saya menaruh tiga band ini bersama-sama? Karena ketiganya menunjukkan tiga wajah musik cepat hari ini. Nails mewakili kemarahan yang dipoles dan efisien. Exhumed mewakili tradisi dan humor, generasi lama yang masih bersenang-senang. Snarler mewakili DIY yang tidak peduli apakah rekamannya rapi asalkan pesannya sampai.

Dan jangan salah, skena kita juga punya banyak nama yang bermain di wilayah ini. Powerviolence dan grind lokal masih hidup di gigs kecil, di kaset dan CD-R yang dijual di lapak, dan di Bandcamp. Ada band yang baru lahir dan ada yang sudah bertahan belasan tahun. Di catatan terpisah kami bahas beberapa rilisan lokal tahun ini, tapi poinnya sama: musik cepat selalu punya tempat di negara yang semuanya serba lambat, mulai dari birokrasi sampai sinyal internet.

Ada satu alasan grind tetap relevan: grind adalah genre yang paling jujur soal waktu. Ia tidak meminta 45 menit perhatianmu. Ia cuma minta satu menit, dan dalam satu menit itu ia memberi semuanya. Di era ketika semua orang mengeluh soal rentang perhatian yang pendek, mungkin grindcore sebenarnya sudah lebih dulu menemukan jawabannya sejak tahun 80-an.

Putar semuanya berurutan. Total durasinya mungkin lebih pendek dari satu episode podcast yang tidak pernah kamu selesaikan.

BagikanWhatsAppX

Dapatkan ringkasan lewat email

Kabar dari ke666elapan

Info merch, restock, dan jadwal Gigs. Paling banyak dua email sebulan.

Bisa berhenti kapan saja. Emailmu hanya dipakai untuk kabar dari Blackandje.

← Blackandzine