Catatan Skena 2026: Vokalis Pindah Rumah, Demo yang Bandel, dan Hardcore Buat Semua Umur

Kabar Skena · 7 November 2026

Catatan Skena 2026: Vokalis Pindah Rumah, Demo yang Bandel, dan Hardcore Buat Semua Umur

DeadSquad buka babak baru, Serigala Malam rilis demo setelah 18 tahun, Gledeg ngebut. Rangkuman rilisan keras lokal yang patut dicatat.

Setiap kali ada yang bilang skena keras lokal "sepi", jawaban paling ampuh bukan debat, tapi satu link rilisan baru. Catatan ini bukan daftar terbaik dan jelas tidak lengkap. Anggap saja ini kumpulan link yang layak kamu kirim.

Kabar paling besar datang di awal tahun, tepatnya 1 Februari. DeadSquad mengumumkan bahwa Vicky Mono kembali ke Burgerkill atas permintaannya sendiri, dan di hari yang sama memperkenalkan Awan Graham sebagai vokalis baru. Pergantian vokalis di DeadSquad bukan hal baru, band ini sudah beberapa kali ganti barisan depan sejak 2006, tapi momen ini terasa beda. Ada nostalgia di satu sisi karena Vicky pulang ke rumah lamanya, dan ada rasa penasaran di sisi lain soal ke mana DeadSquad akan dibawa. Ingat juga bahwa "Perangai Nadir" baru saja membawa mereka menang di kategori metal Anugerah Musik Indonesia 2025, jadi ekspektasinya tinggi. Pernyataan band waktu itu intinya bilang ini bukan perpisahan melainkan bagian dari perjalanan, dan mereka berkomitmen tetap di jalur musik ekstrem. Kita tunggu materi barunya.

Dari wilayah hardcore punk, ada Gledeg asal Jakarta dengan album kedua mereka, Buat Semua Umur. Judulnya saja sudah bikin senyum, seperti label rating film yang dipakai untuk musik yang jelas tidak ramah anak. Isinya cepat, padat, dan agresif. Lagu-lagunya pendek, sebagian besar selesai sebelum kamu sempat bosan, dan liriknya bicara soal hal-hal yang dekat: kritik sosial, hidup sehari-hari, kekesalan kecil yang menumpuk jadi besar. Ini tipe album yang cocok untuk menemani perjalanan pulang naik KRL yang penuh sesak.

Lalu ada Serigala Malam, unit hardcore yang sudah hampir dua dekade menggigit, merilis demo baru berjudul Made It Classic pada 20 Mei. Yang menarik di sini adalah formatnya. Band yang sudah punya tiga album penuh memilih merilis demo. Buat saya itu sikap yang keren. Demo adalah format paling jujur di hardcore: mentah, cepat, tidak banyak polesan. Seolah mereka mau bilang bahwa setelah 18 tahun, semangatnya masih sama dengan band yang baru latihan tiga kali di studio sewaan. Salah satu lagunya bahkan dipersembahkan untuk era awal band mereka sendiri.

Di kubu thrash dan death metal, Antrodemus merilis "Annihilation" pada bulan Agustus, dan dari wilayah metallic hardcore ada Sabertooth yang meluncurkan LP kedua mereka lewat Rest N Rust Records di pertengahan tahun. Dua nama ini mewakili sisi lain skena kita yang sering luput dibahas media arus utama: band-band yang konsisten kerja, rilis, manggung, tanpa banyak drama.

Powerviolence juga punya perwakilan. KONN membuka tahun dengan tiga lagu kritis sebagai pemanasan menuju album penuh. Saya selalu senang melihat powerviolence lokal tetap hidup, karena genre ini butuh nyali: kamu harus marah, cepat, dan tetap terdengar jelas di saat yang sama.

Satu kabar yang mungkin tidak langsung masuk kategori musik keras tapi tetap penting: Sukatani, duo punk asal Purbalingga yang sempat ramai karena "Bayar Bayar Bayar", menjalani tur enam kota di Australia pada Mei. Terlepas dari selera musikmu, itu bukti bahwa band dari kota kecil dengan sikap yang jelas bisa membawa suaranya cukup jauh.

Kalau ada benang merah dari semua ini, mungkin begini: skena keras lokal tidak sepi, dia cuma tidak teriak di tempat yang biasa kamu lihat. Dia ada di Bandcamp, di lapak merch setelah gigs, di story Instagram band yang followers-nya mungkin cuma dua ribu. Kerjanya pelan tapi terus jalan.

Jadi kalau ada yang bilang lagi bahwa skena sudah mati, jangan debat. Kirim saja link-nya.

BagikanWhatsAppX

Dapatkan ringkasan lewat email

Kabar dari ke666elapan

Info merch, restock, dan jadwal Gigs. Paling banyak dua email sebulan.

Bisa berhenti kapan saja. Emailmu hanya dipakai untuk kabar dari Blackandje.

← Blackandzine